Saat hujan
datang, saat itulah pikiran gue untuk menulis akan mengalir dengan sendirinya.
Tulisan gue nggak akan berkisar jauh- jauh dari apa yang gue pikirin kok. Dan
sekarang topiknya adalah:
I WANNA BE A DOCTOR. QUE
SERA- SERA?
Apa yang gue
tulis didalam blog ini adalah apa yang bener- bener gue rasain selama ini.
Mungkin kalau kalian baca ini kalian bakal terenyuh hatinya. Atau mungkin
enggak? Yaudahlahya. Belakangan ini selama UAS gue selalu nonton DVD Korea yang
emang bener- bener moodboster gue ketika gue jenuh. Ada satu film yang ngebuat
gue……. Kaya semacam tamparan yang bertubi- tubi gitu. Apa, ya? Ya kaya….. gini.
Sejak kecil gue kalau ditanya mau jadi apa, dengan lantang
gue akan bilang, “DOKTER!” dan dengan semangat pula saudara- saudara gue dan
orang tua gue bilang amin dan nyuruh gue untuk jadi anak yang pinter. Day by
day gue tumbuh jadi anak perempuan yang kepinterannya biasa- biasa aja, tapi
sejak SMP gue selalu ikut PMR. Kalau lu tau, PMR semacam ekstrakulikuler yang kerjanya
simulasi nolongin orang gitu, intinya bidang humanity and medical deh. Gue
nggak tahu kenapa gue bisa terjerumus ke dunia medical ini yang menurut orang-
orang masih ecek- ecek. Masuk SMA ternyata gue masih pengen ngelanjutin PMR
gue, dan terlebih lagi gue masuk kedalam Organisasi yang juga berhubungan
dengan bidang kemanusiaan. Dari sana gue banyak belajar tentang apa arti
menolong orang, mana yang sakit dan harus ditolong, mana yang bukan dan tetap
dihormati. Gue juga pada akhirnya mengerti bahwa menolong orang bukan Cuma soal
ketika dia tergores dan berdarah, tapi ada hati yang kasat mata yang bisa di
obtain, bukan dengan obat. Sebenernya gue juga udah ngerti bahwa gue nggak akan
ngeberatin biaya kuliah gue, karena gue ngerasa gue udah terlalu nyusahin
mereka dan kalau gue ngerengek kuliah Dokter gue ngerasa nggak punya hati. Gue
memang manja, gue emang nyebelin, tapi untuk orang tua gue, gue nggak akan
main- main. Makin hari gue menghilangkan harapan gue untuk kuliah fakultas
tersebut. Pasti kalian bakal nyangka kalau satu- satunya alasan untuk gue
ngelakuin ini adalah orang tua gue. Gue jawab, aniya. Iie. No. gue ngerasa
kemampuan gue dalam keterampilan udah cukup, tapi dokter bukan mesin bedah
tanpa teori. Semenjak masuk SMA, gue nggak pernah dapet nilai bagus dalam
pelajaran Biologi, sampai gue masuk ke kelas XI IPA. Gue baru nemuin bakat
tersembunyi gue itu, iya, gue suka belajar biologi. Dan dengan kerja keras gue,
nilai Biologi merupakan nilai tertinggi dalam rapot gue. Gue sangat berterima kasih
kepada guru Biologi gue itu (Ibu Syafinar, Terima Kasih atas satu tahun yang
menyenangkan dan mendebarkan. J ) yang telah menyadarkan gue kembali akan mimpi yang
belum telat untuk gue perjuangkan. Gue, menemukan semangat hidup gue kembali.
Setelah kelas XII gue dengan bodohnya, melupakan impian gue itu. Nilai Biologi
gue ancur- seancur-ancurnya aspal ancur. Gue nggak akan nyalahin gurunya, tapi,
ini emang salah gue. jalmothesseumnida L karena nggak belajar sendiri dengan
giat. Gue yakin banget nilai Biologi gue akan menurun dan secara nggak langsung
akan menurunkan persentasi gue untuk masuk Fakultas Kedokteran. Gue sedih
banget. Bagi yang tahu dan mengenal gue, mungkin, saat gue dapet nilai Biologi
jelek gue akan bilang. “Gapapa elah, danta emang sih, tapi gapapa.” Dan teman-
teman guepun akan berlaku seperti itu. Tapi, saat gue sendiri gue akan merutuki
diri gue sendiri karena kebegoan gue. Babo. Gue. Bener- bener nggak tahu apa
yang harus gue lakuin di masa depan. Saat teman- teman gue bilang dengan bangganya
akan amsuk fakultas yang berkaitan dengan kesehatan apapun itu. Gue mulai
bertanya. Apa motivasi dia masuk fakultas tersebut?
Gue yakin yang masuk fakultas
Kedokteran tanpa ada dasarnya atau fakultas kesehatan lainnya tanpa dasar
apalagi Cuma ikut- ikutan apalagi buat terlihat keren. Gue akan bilang. Sumpah.
Lo. Nggak. Keren. Banget. Fakultas yang lo masukin itu bukan ilmu kira- kira
kayak kalau elo nyampurin larutan HCl dan teman- temannya. Fakultas yang lo
masukin itu bukan tentang gimana electron dan proton bisa berpindah kalau kena
listrik dan semacamnya. Fakultas yang lo masukin itu bukan tentang ilmu pasti
yang kalau 3 tambah 3 ya pasti 6. Fakultas yang lo masukin adalah sebuah
fakultas yang berkaitan dengan nyawa manusia. Nyawa cong. Nyawa yang nggak bisa
lo dapetin di Mall terbesar seAsia Tenggara sekalipun. Jadi, gue pesen banget
buat kalian, yang mau masuk fakultas Kedokteran, plis, Tanya dulu ke hati
kalian, untuk apa kalian menjadi dokter? Saat lo Tanya ke gue, “Buat apa lo
jadi dokter? Emang lo mau ngapain?” Gue akan bilang. Gue nggak mau ngeliat
orang yang gue sayang pergi. Hampir satu tahun yang lalu, gue punya keponakan,
namanya Almh. Wafa Jasmine Alfiyyah. Belum genap satu tahun dan dia sakit. Gue
nyesel banget karena datang di saat kondisi dia udah parah banget, gue nyesek lihat
adek gue yang masih kecil itu tubuhnya dipenuhi selang- selang dan layar yang
menunjukkan kalau dia lemah banget. Pada akhirnya gue harus merelakan dia balik
ke Allah SWT. Beberapa bulan yang lalu salah satu keponakan gue ada yang sakit.
Nggak jauh beda. Dia masih kecil juga. Nggak parah sakitnya Cuma dengan
sendirinya gue nangis karena gue inget Wafa. Kalau kalian liat tulisan gue
paling atas, ini emang ada hubungannya dengan Drama yang gue Tonton. Kalian bisa
beli DVDnya atau search di Youtube drama judulnya. “Good Doctor” inti ceritanya
adalah tentang laki- laki penyandang Autisme yang berjuang untuk menjadi
Dokter. Dan yang paling bikin gue nyess adalah, ini bercerita tentang Depatemen
Dokter Bedah Anak. Gue nggak pernah niat jadi dokter bedah anak tapi jalan
cerita ini mengajarkan gue banyak hal tiap episodenya. Gue inget apa yang
Profesor Kim Do Han bilang ke salah satu anak tentang impian, “Aku tahu bahwa kamu sudah mempunyai hal
pertama yang baik, tapi setelah ini aku berharap kamu menemukan hal pertama
yang lain. Hal pertama yang baik akan membuat mimpimu menjadi kenyataan, tapi
masih ada banyak mimpi yang bisa kau raih. Layaknya kamu tidur setiap hari,
kamu akan terus mendapatkan mimpi yang berbeda.” Ini baru namanya tamparan. HAHA -_-. Gue tahu
bahwa mimpi gue ini nggak bisa gue lupakan karena satu dan lain hal, dan gue
memutuskan untuk mempunyai impian lain yang gue jamin gue tetap bahagia dengan
mimpi gue itu. Karena bagaimanapun hidup harus mempunyai plan B. Gue berjanji
akan terus menolong orang dengan jalan yang bisa gue lalui, karena menolong
bukan hanya bisa dilakukan oleh satu profesi, tapi semua profesi. Seperti kata
Dr. Han Ji Wook “Cinta yang menyakitkan tetap akan menjadi Cinta.” Ya, gue tahu
gue sangat amat cinta dengan dunia kedokteran walaupun menyakitkan, tapi gue
tetep cinta. Gue akan terus berdiri dan berlari menggapai mimpi gue apapun itu,
and happily ever after. Mamah, Papah, Maaf ya. Mianhe. Gomenansai. Karena Cuma
bisa ngerepotin kalian. Jeongmal mianhe.
“Terima kasih telah percaya kepada ku
karena kepercayaanlah yang akan membuat ku yakin dan membuat hatiku penuh.
Hatiku akan penuh jika diisi dengan kepercayaan karena ia tidak akan pergi,
tidak seperti saat kamu mengisi hatimu dengan udara, sssingg- sssingg ia secara
perlahan akan pergi.” – Dr. Park Shi On, Good Doctor
Kamsahamnida,
Eomma, Abeoji, Oppa.
Saranghae.
“ Dari pengalamanku, kupikir cinta adalah penghilang rasa sakit yang
sempurna, tapi ternyata juga menyakitkan. Cinta biasa dan cinta yang meyakitkan
adalah dua jenis obat yang berbeda. Cinta biasa adalah penghilang rasa sakit.
Tapi cinta yang mneyakitkan adalah disinfektan, awalnya benar- benar
menyakitkan. Tapi kemudian bisa menyembuhkan luka dengan baik. Pada akhirnya
cinta yang menyakitkan juga menyembuhkan. Jadi, walaupun menyakitkan, kertakkan
gigumu dan bertahan.” – Dr. Han Ji Wook, Good Doctor.

